Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Desember 2009

Jangan Menyebut Diri Katolik!!

Judul diatas saya pinjam dari judul sebuah tulisan reportase singkat di Majalah HIDUP No.52 Edisi 27 Desember 2009. Reportase dari Majalah HIDUP tersebut mengambil tempat dalam acara seminar dan launching buku "Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan: Seberapa Jauh?" di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 10 Desember 2009 yang lalu.
Saya terinspirasi dengan kutipan dalam reportase tersebut, dimana dengan secara gamblang Pater Ignatius Ismartono, SJ mengatakan :
"Seorang Katolik tidak boleh menyebut dirinya Katolik, kalau dia tidak mengakui bahwa agama lain juga merupakan jalan yang direstui Allah".
Kata-kata tersebut bagiku merupakan sebuah kesimpulan yang sempurna sebagai penutup dari refleksi pribadiku yang amat panjang sejak masa awal reformasi sampai detik ini..sebuah refleksi pribadi dalam melihat realita kehidupan sosial mengenai kehidupan beragama di negeri ini.

Sharing tentang permenungan ini sejatinya hanya ingin kusharingkan kepada mereka yang seiman denganku, akan tetapi sebagai pribadi yang mengimani bahwa "agama adalah alat dan bukan tujuan" maka kuberanikan diriku untuk mensharingkannya secara terbuka melalui media ini.
Sebagai pribadi yang turut mengalami sendiri sakit dan pedihnya perjuangan dalam meruntuhkan sebuah rezim otoriter, melihat dengan mata kepala sendiri setiap aksi kekerasan yang harus kami alami pada waktu itu membuatku berefleksi bahwa pada saat itu setiap aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa tidak memandang perbedaan yang ada. Perbedaan kampus, organisasi mahasiswa, agama, suku, ras bahkan ideologi perjuangan bersatu dalam menghadapi musuh bersama yaitu rezim Orde Baru. Rekayasa peristiwa Mei 1998 dengan kerusuhan berskala masif yang menggunakan isu ras dan agama ternyata tidak mampu menghancurkan perjuangan mahasiswa pada waktu itu.
Peristiwa itu mengingatkanku akan perjuangan para pendahulu kita dalam aksi revolusi merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah.
Pada titik ini, dalam refleksi itu aku bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa aku dilahirkan dalam sebuah bangsa yang secara alami mampu bersatu, berjuang dan membangun dirinya dalam realita perbedaan yang luar biasa kompleks dan bahkan pada titik tertentu berlawanan satu dengan lainnya.

Babak-babak berikutnya dalam masa awal reformasi adalah cerita-cerita kelam berupa kerusuhan dengan motif agama, suku dan ras yang melanda berbagai tempat di Republik ini. Khusus dalam tulisan ini, saya hanya akan membatasi pada peristiwa yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan yang ternyata masih sangat rapuh. Peristiwa kerusuhan di Pulau Ambon dan Poso yang memakan korban jiwa dalam skala masif, pembakaran dan penutupan paksa terhadap tempat ibadah di beberapa tempat, tumbuh suburnya organisasi masa atas nama agama yang ekstrim dan selalu menggunakan kekerasan sebagai pembenaran dalam setiap aksinya adalah realita sosial yang menunjukan rapuhnya kehidupan keagamaan di Republik ini terlepas dari ada atau tidaknya oknum-oknum yang berkepentingan dalam semua peristiwa tersebut.
Agama Katolik sebagai agama minoritas di Republik ini juga tidak luput dari peristiwa kekerasan tersebut, sebagai umat Katolik di wilayah Keuskupan Agung Jakarta masih melekat kuat dalam benakku peristiwa penutupan paksa Paroki St.Bernadette, Ciledug pada bulan Agustus 2004 lalu, bahkan siswa-siswi sekolah Sang Timur harus berjalan kaki memutar lebih jauh akibat penutupan paksa Gereja tersebut, yang membuatku sedih adalah fakta bahwa sebagian diantaranya adalah siswa sekolah luar biasa bagi anak-anak cacat bawaan sejak lahir.
Pada bulan November 2008 lalu, Paroki Damai Kristus, Kampung Duri juga mengalami nasib serupa ditutup paksa oleh sekelompok organisasi tertentu dengan berbagai alasan.
Belum lagi dua peristiwa itu diselesaikan, di bulan Desember tahun ini giliran Paroki St.Albertus, Perumahan Taman Harapan Indah Bekasi, dibakar sekelompok massa yang tidak bertanggungjawab, padahal paroki tersebut sedang dalam proses pembangunan fisik Gereja setelah semua ijin formal sesuai ketentuan peraturan dapat dipenuhi.

Pada titik ini, banyak gugatan dalam refleksi pribadiku dalam melihat "Wajah Allah" dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Aku terhanyut bukan lagi dalam sebuah sikap reflektif, tetapi justru lebih menjurus kepada sikap antipati. Bahkan pada titik tertentu aku menggugat eksistensi bangsa ini sebagai sebuah bangsa yang terbukti mampu bertahan dan tetap bersatu dalam segala ujian dan cobaan yang telah dijalaninya.
Titik tolak refleksiku perlahan-lahan mengalami titik balik ketika membaca kembali tulisan dari Almarhum Mgr.Leo Soekoto, SJ Uskup Agung Jakarta kedua (21 Mei 1970 - 10 November 1995) dalam buku Hasil Sinode Keuskupan Agung Jakarta tahun 1990 yang dengan nada sedikit "meramal" menulis demikian :
"Di segala zaman Gereja mengalami tekanan, ancaman, dan penganiayaan. Iman, Harapan dan Cintakasih kita harus sedemikian kuat sehingga kita tahan banting. Kita harus siap bagi masa-masa yang lebih berat, dimana kesetiaan pada iman Katolik menuntut keberanian, pengorbanan dan kesediaan untuk menderita." Kutipan ini diambil kembali oleh Uskup Agung Jakarta ketiga Kardinal Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ yang telah mengundurkan diri (sesuai ketentuan Hukum Kanonik Gereja Katolik jika genap berusia 75 tahun wajib mengajukan pengunduran diri sebagai Uskup kepada Paus) dalam wawancaranya dengan majalah HIDUP beberapa waktu yang lalu. Gereja dalam arti ini bukan hanya sekedar bangunan fisik berupa gedung gereja, tetapi Gereja dalam arti persekutuan orang-orang yang beriman kepada Kristus dan ajaran-Nya.

Merenungkan kembali tulisan dari almarhum...seorang pribadi yang sangat aku takuti karena sifat tegas dan galaknya ketika aku masih kanak-kanak di bangku Sekolah Dasar tersebut, mampu membuka kembali lembaran refleksi yang baru. Justru pada titik ini aku "terpaksa" kembali merenungi apa artinya menjadi manusia yang beriman sekaligus beragama.
Hal ini juga berkaitan erat dengan kunjungan Kardinal Mgr. Jean-Louis Tauran, Presiden dari Dewan Kepausan Untuk Dialog Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan ke Indonesia beberapa waktu yang lalu yang dalam kuliah umumnya mengatakan : "Sifat toleransi adalah merumuskan batas. Tujuannya menghindari konflik. Namun, ketika batas itu tersentuh, konflik mudah terjadi. Sebaliknya dengan Cinta, ia tak memiliki batasan."

Pada titik inilah, aku mulai merasakan buah-buah refleksi dari semangat dan kemampuan untuk berani menderita sekaligus semangat dan kemampuan untuk membangun komunikasi dengan setiap manusia dengan segala persamaan maupun perbedaannya atas dasar Cinta...bukan hanya sekedar untuk menghargai saja..tetapi harus lebih dari itu.
Kesediaan untuk berani menderita telah dilakukan secara sempurna oleh Kristus sendiri dengan setia dan taat menjalani segala penderitaan dan siksaan hingga wafat di kayu salib yang pada waktu itu merupakan lambang penghinaan yang paling hina bagi seorang anak manusia.
Kesediaan untuk menderita telah dilakukan juga secara sempurna oleh Bunda Maria yang rela dan setia menjalani kehamilan diluar pernikahan yang pada masa itu dapat diancam dengan hukuman rajam (dilempari batu hingga mati), dan kesediaannya untuk menderita sebagai seorang ibu menemani, melihat dengan mata kepala sendiri puteranya disiksa hingga wafat di kayu salib. Begitu juga dengan peran sang ayah dan suami..St.Yusuf yang dengan rela dan setia menderita karena bersedia mengambil Maria sebagai isterinya dan berjuang melindungi anak dan isterinya dari kejaran prajurit Romawi.
Kesediaan untuk menderita ketiga tokoh tersebut hanya dimungkinkan oleh sebuah spiritualitas...yaitu spiritualitas CINTA. Ketiga tokoh itu mengajarkan kepada kita bahwa Cinta kepada Allah memiliki konsekuensi logis yaitu keberanian untuk menderita menghadapi segala cobaan sekaligus tetap setia kepada-Nya.

Melihat realita kehidupan beragama saat ini, justru spiritualitas Cinta seperti itulah yang harus terus menerus kita hayati dalam hidup sehari-hari sebagai umat Katolik. Seperti kata almarhum Mgr.Leo Soekoto,SJ bahwa Iman, Harapan dan Cintakasih harus sedemikian kuat agar kita tahan banting. Sehubungan dengan itu, kiranya sangatlah relevan dengan apa yang dikatakan oleh Pater Ignatius Ismartono,SJ dalam paragraf pembuka diatas. Karena kesediaan untuk menderita yang dilandasi oleh spiritualitas Cinta tersebut berarti juga keberanian dan kerelaan kita sebagai umat Katolik untuk melihat bahwa Allah yang Esa tersebut juga hadir dalam semua agama dan kepercayaan yang ada di Republik ini. Kita tidak dituntut untuk mencintai agama dan kepercayaan lain...tetapi kita dituntut untuk mencintai manusia yang menganut agama dan kepercayaan lain tersebut. Sikap ini jelas membutuhkan pengorbanan dan kerelaan untuk menderita yang sangat besar, karena memang tidak mudah sebagai manusia yang penuh dengan kelemahan dan keterbatasan ketika suatu saat peristiwa-peristiwa diatas kita alami sendiri.
Perjuangan untuk melawan ketidakadilan dalam kehidupan beragama di Republik ini harus didasari atas spiritualitas tersebut. Bukankah dengan semakin beratnya beban "salib" yang harus kita panggul dalam hidup ini...kita justru diberi kesempatan dan kehormatan oleh Allah sendiri untuk mengalami dan menyerupai apa yang pernah dialami oleh Kristus sendiri dalam memanggul salib-Nya lebih dari 2000 tahun yang lalu..??

Berani mengakui diri sebagai seorang Katolik, berarti berani mengakui agama dan kepercayaan lain sebagai jalan yang direstui Allah sekaligus mencintai manusia-manusia yang memeluk agama dan kepercayaan lain tersebut, bukan hanya sekedar menghargai mereka...berani mengakui diri sebagai Katolik, berarti berani untuk berkorban dan menderita dalam menghadapi cobaan hidup sehari-hari termasuk juga cobaan ketika kebebasan kita dalam melaksanakan ibadah di Republik ini masih dibatasi oleh oknum-oknum tertentu...

Terima kasih dan Selamat Natal bagi yang merayakannya.

Jumat, 09 Oktober 2009

Gugatan Terhadap Surat Rasul Paulus

 heweeps.com

Judul diatas diambil dari pengalaman pribadi ketika untuk pertama kalinya aku "terpaksa" mengikuti Pendalaman Iman di minggu ke-4 bulan Kitab Suci dengan tema besarnya "Bagi Bangsa dan Negara" yang baru saja berlalu September yang lalu. Saya menggunakan kata "terpaksa" karena kebetulan di pertemuan terakhir itu, rumah kami mendapat giliran sebagai tuan rumah...jadi jujur...bukan karena kesadaran pribadi untuk berpartisipasi secara aktif.

Saya tidak ingin mensharingkan alasan-alasan mengapa saya jarang sekali berpartisipasi aktif dalam setiap rutinitas tahunan umat Katolik di setiap Bulan September tersebut...yang ingin saya sharingkan adalah pengalaman..atau mungkin lebih tepatnya pergulatan pribadi di dalam memaknai tulisan dari Santo Paulus dalam bacaan yang menjadi dasar refleksi pada pertemuan itu.
Bacaan diambil dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma Bab 13 ayat 1 - 7. Ayat 1 dan 2 berbunyi sebagai berikut :
1)"Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang diatasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah."
2) "Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya."

Ketika kami diberi kesempatan oleh pembawa renungan untuk merefleksikan bacaan tersebut, yang pertama timbul dalam hati nurani dan rasionalitas saya bukanlah sebuah permenungan akan ayat-ayat suci...melainkan sebuah...gugatan..ya gugatan kepada Rasul Paulus. Andaikan saya hidup di jaman Rasul Paulus dan membaca langsung suratnya...yang ada dalam otak saya hanya satu...yaitu mencari tahu dan bertanya langsung kepadanya...apa sesungguhnya yang dia maksud dalam tulisan itu..?

Sejarah dunia mencatat bahwa ada banyak luka dan penderitaan dari setiap pemerintahan yang tidak pernah berpihak kepada rakyat, bahkan sejarah mencatat bagaimana kejamnya pemerintahan di negara-negara dunia ketiga yang sangat otoriter, haus akan kekuasaan sampai tanpa perasaan berdosa membunuh rakyatnya demi kekuasaan itu sendiri. Sejarah mencatat juga bagaimana kejamnya rezim Polpot, rezim Saddam Husein, rezim rasis Nazi Adolf Hitler,rezim fasis Benito Musolini, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Yang menjadi dasar gugatan saya adalah penggunaan kata "Pemerintah" oleh Rasul Paulus yang memiliki arti tunggal dan bersifat umum, Santo Paulus tidak membedakan pemerintah seperti apa yang berasal dari Allah, ia dengan sangat jelas hanya menggunakan satu kata saja yaitu "Pemerintah".
Menjadi menarik bagi saya jika mengetahui latar belakang kehidupan rakyat Roma pada waktu Rasul Paulus menulis surat itu, apakah kaisar Roma pada waktu itu adalah pemerintah yang bijak ? atau sebaliknya justru pemerintah yang menindas rakyatnya?

Saya menyadari sepenuhnya bahwa tafsir terhadap ayat-ayat dalam Kitab Suci di Agama apapun pasti bersifat multitafsir, karena manusia dengan segala keterbatasannya selalu berusaha untuk mencari makna dari ayat-ayat tersebut yang dapat digunakan sebagai pegangan hidupnya dalam menjalani perjuangan hidup sehari-hari. Proses menterjemahkan suatu ayat dalam hidup sehari-hari bukanlah sesuatu yang mudah...karena yang terutama dibutuhkan adalah bimbingan Roh Kudus selain daripada rasionalitas manusia yang terbatas.

Tahap awal permenungan saya malam itu adalah sebuah gugatan terhadap Rasul Paulus yang menurut saya tampak sebagai seseorang yang sedang melakukan proses pemandulan terhadap daya kritis kita sebagai rakyat terhadap pemerintah.
Terlepas dari baik buruknya sebuah pemerintahan, saya meyakini bahwa daya kritis kita untuk mengkritik pemerintah bahkan jika perlu melakukan perlawanan terhadap pemerintahan yang tidak berpihak kepada rakyat adalah sebuah keniscayaan.
Idiom yang mengatakan "Vox Populi Vox Dei..Suara Rakyat adalah Suara Allah" memilik makna terdalam bahwa rakyat pada hakikatnya adalah pemegang kekuasaan tertinggi...dimana pemerintahan yang dipercayakan oleh rakyat melalui proses Pemilu justru memiliki makna sebagai "Abdi Rakyat". Jika pemerintah secara sadar mengkhianati makna tersebut...apakah masih pantas Rasul Paulus meminta kita untuk tetap taat dan tidak melakukan perlawanan?

Tahap kedua permenungan saya adalah kekaguman saya akan fakta sejarah bahwa Paulus adalah satu-satunya pengikut Kristus yang diberi gelar "Rasul" oleh Gereja Perdana. Seperti kita ketahui, gelar tersebut hanya diberikan kepada murid-murid Yesus yang mengikuti-Nya semasa Ia hidup. Satu hal yang pasti, Gereja Perdana pasti memiliki dasar yang sangat kuat dalam memberikan gelar tersebut kepada Paulus, apapun alasannya saya mendukung keputusan Gereja tanpa ragu sedikitpun, karena jujur....secara pribadi saya sangat mengaggumi tulisan-tulisan Paulus yang sangat menggugah, menyemangati dan selalu memberi inspirasi.

Membaca beberapa tulisannya terasa sekali karakternya sebagai seorang mantan perwira Kekaisaran Romawi yaitu karakter pengabdian akan tugas yang dilandasi semangat totalitas tiada tara....bahkan tanpa kompromi dalam penghayatan iman sebagai pengikut Kristus.
Totalitas iman Paulus tergambar jelas dalam salah satu suratnya yang berbunyi : "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan".... atau dalam salah satu surat lain yang berbunyi : "Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.".......

Tahap ketiga permenunganku adalah sebuah titik refleksi untuk melihat "Wajah Allah" dalam ketaatan kita terhadap pemerintah...terlepas dari baik buruknya pemerintahan tersebut. Pada titik ini yang menjadi pusat perhatian saya adalah pada pemaknaan akan relasi antara manusia yang satu dengan yang lain, relasi antara rakyat dengan abdi rakyat. Karena makna akan ketaatan rakyat terhadap pemerintah tidak bisa dilepaskan juga dari pemaknaan ketaatan pemerintah sebagai abdi rakyat terhadap rakyatnya.
Walaupun Paulus hanya menekankan ketaatan dari pihak rakyat, jelas sekali surat itu mengandung pesan yang jelas bagi para pemimpin...bahwa mereka adalah "perpanjangan tangan" Allah, dan karena itu beban moril mereka jauh lebih berat daripada rakyat, karena mereka dituntut untuk menghadirkan "Wajah Allah" selama mereka memerintah.

Jika "Wajah Allah" yang mereka tampilkan adalah penderitaan dan penindasan terhadap rakyat, maka makna akan ketaatan rakyat terhadap pemerintahan seperti itu memiliki makna spiritualitas yang lebih mendalam yaitu ketaatan untuk berani menerima, menjalani dan memikul segala penderitaan tersebut seperti halnya Kristus tetap taat menjalani penderitaan-Nya sampai wafat di kayu salib. Atau, bahkan jika kita sebagai rakyat memutuskan untuk melakukan perlawanan baik dengan cara kekerasan ataupun secara damai dengan segala resikonya, makna ketaatan kita sebagai rakyat tidaklah berkurang selama perlawanan tersebut didasari oleh suatu spiritualitas untuk menghadirkan "Wajah Allah" yang sesungguhnya yaitu "wajah" yang berpihak terhadap mereka yang lemah dan menderita seperti halnya Kristus melakukan perlawanan melalui kritik sosial maupun kritik teologis terhadap kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Yahudi pada waktu itu.
Keberpihakan-Nya terhadap rakyat yang berdosa, lemah dan menderita menjadi dasar perjuangan-Nya, menunjukkan kepada kita bahwa Allah hadir dan berpihak kepada mereka.

Pada akhirnya...pertanyaan reflektif bagi kita sebagai rakyat adalah :"Mampukah kita tetap bisa melihat "Wajah Allah" dalam pemerintahan yang otoriter, menindas dan membuat rakyatnya menderita?"
Jelas sekali, Rasul Paulus dengan suratnya melakukan suatu kritik sosial maupun teologis akan peran kita sebagai rakyat dan pemerintah sebagai abdi rakyat. Peran sebagai rakyat dan pemerintah memang tidak terbantahkan adalah ketetapan dari Allah sendiri, status sosial sebagai pemimpin walaupun sebagai hasil dari usaha perjuangan manusiawi tidak terlepaskan dari peran Allah sebagai "Sang Sutradara".

Dan satu hal yang pasti...jika rakyat dituntut untuk setia kepada pemerintah...dengan sendirinya pemerintah juga dituntut untuk setia kepada Allah karena merekalah perpanjangan "tangan" Allah...dan sebagai abdi rakyat...sudah layak dan sepantasnyalah setiap pemerintahan dimanapun di dunia ini melihat Allah hadir dalam setiap wajah rakyat yang dipimpinnya...khususnya mereka yang lemah dan menderita.

Senin, 24 Agustus 2009

Cinta Datang untuk Menyatukan Perbedaan (Tanggapan atas Pernikahan Beda Agama)

Melihat maraknya perdebatan tentang "Pernikahan Beda Agama" di media Kompasiana ini, ada beberapa hal yang perlu kita jadikan sebagai bahan permenungan bersama. Permenungan tentang makna dari sebuah perkawinan...permenungan yang jelas tidak bisa dilepaskan dari kehendak bebas manusia untuk menjadi bahagia...seberat apapun tantangan dan setinggi apapun "tembok" pemisah dari dua anak manusia yang saling mencintai satu sama lain.

Penulis sendiri adalah pribadi yang dilahirkan sebagai buah cinta dari dua pribadi yang berbeda baik suku, agama, tingkat pendidikan, status sosial maupun status ekonomi. Perbedaan-perbedaan itu dilihat dari sudut pandang manusiawi jelas tidak memungkinkan bagi keduanya untuk membina kehidupan rumah tangga. Manjadi saksi hidup atas komitmen mereka untuk saling mencintai satu sama lain sampai maut memisahkan mereka berdua adalah sebuah pengalaman berharga yang membuatku belajar bahwa Cinta datang untuk menyatukan perbedaan. Pengalaman itu membuatku berefleksi tentang beberapa hal mengenai hubungan antar manusia yang saling mencintai satu sama lain. Buah-buah refleksi tersebut ingin penulis sharingkan kepada para pembaca kompasiana sebagai berikut :

Cinta sebagai Anugerah VS Ego Manusia
Penulis mengimani bahwa Cinta adalah anugerah dari Allah yang Maha Esa. Tidak pernah ada penjelasan secara ilmiah yang mampu menjawab mengenai pertanyaan : "Darimana Cinta itu datang..? Darimana Cinta itu berasal..?". Selama belum terjawab...penulis masih mengimani sampai detik ini bahwa Cinta itu datang...berasal dari Allah sendiri. Dan karena Cinta berasal dari Diri-Nya yang Suci, maka Cinta itupun bersifat Suci seperti halnya Dia Sang Pemberi. Pertanyaan yang paling logis adalah.."Jika Cinta itu berasal dari-Nya dan bersifat Suci seperti Diri-Nya...mengapa Cinta bisa membuat manusia patah hati, kecewa bahkan berubah menjadi benci..?" Jawabnya sangat mudah...yaitu karena manusia adalah mahluk yang memiliki Ego, Ego adalah kodrat manusia..itu mutlak dan tidak terbantahkan. Ego mampu membuat Cinta yang sebelumnya bersifat suci menjadi kehilangan makna kesuciannya...Ego menyamakan Cinta dengan keharusan untuk memiliki sesuatu atau seseorang yang dicintai demi kepuasan diri sendiri. Ketika mengatakan "Aku Mencintaimu..." Ego berusaha memanipulasinya dengan memaknainya yang kira-kira jika diungkapkan "Karena jika aku bersamamu aku bahagia..tetapi..jika kau pergi aku pasti menderita.." Ego mengubah esensi Cinta dari "memberi" menjadi "menerima"...semuanya demi aku...demi kebahagiaanku..selalu untuk aku. Maka ungkapan yang tepat adalah "Aku Mencintai diriku sendiri..."

Spiritualitas Agama VS Ego Manusia
Walaupun Allah bersifat Esa...Ia memberikan kebebasan kepada manusia untuk mencari-Nya melalui banyak "jalan" baik melalui Agama ataupun kepercayaan yang lain yang bersifat "Ilahi"... Setiap Agama memiliki tradisi dan aturan-aturan yang wajib diikuti para penganutnya. Umat beragama mengimani bahwa aturan-aturan yang tertulis dalam Kitab Suci adalah wahyu dari Allah sendiri, oleh karena itu ia bersifat mutlak/absolut alias tidak terbantahkan. Manusia dikaruniai kebebasan oleh Allah sendiri untuk memilih dengan "jalan" apa ia akan mencapai kebahagiaan sejati untuk kembali kepada-Nya setelah kehidupan ini berakhir. Penulis sengaja menulis sub judul diatas dengan kata-kata "Spiritualitas Agama", maksudnya adalah bahwa Agama tidak hanya dipahami sebagai sebuah aturan-aturan, tradisi, doktrin dan tafsiran ayat-ayat suci saja. Agama sejatinya adalah sebuah spiritualitas untuk melihat "Wajah Allah" dalam segala hal dan peristiwa hidup kita. Pemahaman akan aturan, tradisi dan ayat-ayat suci tanpa disertai spiritualitas untuk melihat "Allah Dalam Segala" justru membuka jalan bagi Ego manusia untuk kembali memanipulasi nilai-nilai kesucian ajaran Agama. Ketaatan dan kepatuhan terhadap ajaran Agama dapat dimanfaatkan Ego manusia yang kira-kira jika diungkapkan dengan kata-kata adalah "Agamakulah yang terbaik...bukan Agamamu...Tidak ada jalan lain kepada Allah jika tidak melalui Agamaku...di luar Agamaku...engkau adalah murtad..." Ego menghalangi manusia untuk melihat "Wajah Allah" dalam perbedaan-perbedaan...yang justru diciptakan oleh Allah sendiri.

"Peraturan Dibuat untuk Ditaati...Tetapi Cinta Tahu Kapan Harus Melanggarnya.."

Pemahaman akan ajaran Agama dan pemaknaan akan Cinta yang didominasi oleh Ego manusia akan membuat kita semakin "melekat" akan cinta terhadap diri sendiri. "Kelekatan" itu justru menghilangkan keindahan "Wajah Allah" yang sejatinya selalu hadir dalam setiap peristiwa hidup manusia.

"Wajah Allah" itu hadir dalam kehidupan perkawinan almarhum Bapak dan alamarhumah Ibuku...dua pribadi yang memaknai Cinta dan Agama sebagai karunia dari Allah sendiri...Mereka juga berhadapan dengan "tembok" kokoh tradisi akan ketaatan terhadap ajaran-ajaran Agama dan semua aturan-aturannya yang terlanjur ditafsirkan seturut Ego manusia...tetapi mereka memilih untuk melanggarnya...karena Cinta yang hakikatnya suci..berasal dari Allah...berhasil "melumpuhkan" Ego manusia..dengan mengatakan "Aku Mencintaimu..." kedua orangtuaku secara nyata telah mengajarkan kepadaku bahwa kata itu mengandung makna "Engkau dan Aku" bukan lagi aku sendiri....
Semua perbedaan itu akhirnya mampu mereka atasi ...mereka setia sampai maut memisahkan mereka...seperti janji mereka di hadapan Allah untuk hidup setia dalam keadaan untung maupun malang...dalam keadaan sehat maupun sakit...dalam keadaan suka maupun duka...Itulah "Wajah Allah" yang kutemukan melalui kedua orangtuaku..."Wajah" yang memperlihatkan kepadaku bahwa Cinta memang datang untuk mengatasi segala perbedaan.....
Salam,

Cari Blog Ini